Episode 1: Anak dalam Kotak

Biar lebih enak, admin ngomongnya “AKU” aja ya di setiap cerita? Aku ga pernah ada niatan buat belajar atau menjadi hebat, aku bahkan bersikap biasa saja pada saat SD dan SMP. Ketika Ujian Nasional SMP, memang baru muncul sebuah niat dari hati kalau aku pengen lulus dan mendapatkan SMA Negeri kesukaan. Namun, sesuatu yang ga terduga memang ternyata sudah menjadi takdir, tak disangka aku masuk ke SMA swasta di kota Bandung dan bisa dikatakan cukup baik daripada sekolah swasta lainnya. Bahkan sekolah tersebut bersaing dengan sekolah-sekolah Negeri, ada sebuah papan TryOut dan aku melihat ada ratusan siswa dari sekolah Negeri, aku sedikit terkejut ketika rata-rata yang masukĀ ranking 10-20 besar kebanyakan dari SMA ku tersebut.

Hmm tapi aku ga yakin kalau aku bisa seperti mereka, mengingat pengalamanku di masa lalu aja, aku ga ada pengalaman sama sekali untuk belajar keras seperti mereka (ya mungkin belajar dengan giat hanya pada saat SD, itu juga bimbingan dari orang tua). Di SMP aku disuruh belajar sendiri, cuman ga aku manfaatin dengan baik, aku emang kurang berusaha lebih keras, makanya ga bisa masuk SMA Negeri kesukaan, apalagi cuman modal lulus haha (sudah bersyukur). Aku belum menemukan metode belajar yang tepat, gimana mood dan belum ada tekad untuk jadi juara. Lebih parahnya sifat nakal ku di SMP masih dibawa-bawa ke SMA, bukannya berperilaku baik sebagai siswa baru, tapi baru masuk aja udah cari masalah sama yang lain.

Aku ini angkatan ke-6 di sekolah, ya bisa dibilang SMA swasta tersebut masih tergolong baru. Kasarnya, angkatan ku ini bisa dibilang angkatan percobaan, selain dari kurikulum pemerintah, tetapi sistem pembelajar di sekolah pun agak diubah dari angkatan sebelumnya. Ditambah di era modern saat ini, angkatan ku juga dijadikan percobaan apakah efektif belajar menggunakan gadgets?

11700634_1682061218721908_6110728505668256665_o

Masuk ke dalam sekolah, aku berada di koridor sekolah yang agak sempit, tembok yang bukan dibangun menggunakan batu bata dan semen, meja yang digunakan pun bukan seperti meja kayu sekolah, tetapi meja bimbel dengan ukuran yang tidak luas (semoga dimengerti karena meja bimbel itu kecil dan benda-benda kecil mudah terjatuh jika tersenggol), ukuran kelas yang tidak begitu luas, terdapat CCTV diberbagai sudut sekolah, ada komputer yang bisa dipakai bersama (rata-rata digunakan hanya untuk menonton film daripada presentasi) di kelas, dan ada air conditioner juga. Di sekolah kami memang tidak memiliki lapangan yang luas bersebelahan dengan tempat parkir (hanya motor), terkadang banyaknya siswa membuat lapangan olahraga pun dijadikan lapangan parkir juga, walaupun ga sering-sering banget, sehingga kami harus berolahraga ke tempat yang luas, seperti taman, sabuga, gasibu, dan sebagainya. Walaupun di sekolah kami juga hanya memiliki mushola, tidak ada mesjid, kami tetap pergi ke mesjid terdekat, jarang yang beribadah di mushola sekolah kecuali mepet. Ya begitulah, semoga terbayangkan sama kalian mengenai sekolah swasta yang bisa dikatakan kecil ini.

Aku masuk di kelas X-3 dan bertemu dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Maksudnya? Ya, kelas X-3 ini di kenal di sekolah karena memiliki murid-murid dari berbagai macam kota/daerah. Untungnya komunikasi lancar karena menggunakan bahasa Indonesia tentunya, BAHASA PEMERSATU! Beberapa orang memang agak sedikit malu dan belum terbiasa dengan lingkungan baru di SMA, terkadang kami tertawa bersama-sama karena dialek atau logat orang-orang tertentu yang men-cirikhas-kan asal mereka.

Di kelas aku duduk bersampingan dengan ketua kelas, yaitu Diki dari Garut, orangnya sunda banget nih tapi dia berusaha berbicara bahasa Indonesia dengan santai, ketika belajar aku melihat Diki sering mencatat apa yang guru katakan dan guru tulis di depan. Aduh 180 derajat dengan kehidupanku sebelumnya, karena aku tidak biasa mencatat di buku, tapi Diki memberitahukan ku satu hal, “Apa yang saya catat bukanlah buat diri saya juga, kalau ada orang yang mau belajar tapi tidak mencatat, bisa saya kasih buku saya, dan apa yang sudah dicatat selain dipelajari buat ujian, bisa jadi sebuah kebetulan buku itu dibaca lagi di masa depan atau pada saat kuliah atau juga adik kelas yang mau belajar.” Aku memang masih sedikit bingung, tapi apa yang Diki katakan memang benar, walaupun aku pada saat itu belum paham maksudnya karena aku belum memiliki tujuan yang jelas, iseng-iseng aku coba ikut mencatat juga deh walaupun ga ngerti.

Di kelas juga aku melihat tingkah 2 orang anak yang konyol yang menjadi pusat perhatian di kelas karena mereka yang pailng ribut dan memang membuat teman-teman X-3 tertawa-tawa, mereka adalah Rangga dan Royan yang bisa bersosialisasi dengan baik karena humor mereka dan MALU-MALUIN, Rangga dan Royan sebenarnya pernah satu SMP sebelumnya, di kelas pun banyak yang tertawa karena tingkah laku mereka. Teman kami asal Depok yaitu Wanda kadang merasa di bully oleh Rangga dan Royan sebagai bahan hiburan dan lelucon. Oh iya, Wanda itu laki-laki ya di kelas, tapi bully yang dimaksud bukan secara kekerasan dan fisik ya, jangan salah paham, cuman kenakalan remaja buat candaan di kelas. Wanda juga tertawa-tertawa saja walaupun ada masa-masanya bete (namanya juga manusia dan pasti ga suka keseringan diganggu). Untungnya Wanda pernah bilang, “Kalau ga ada Rangga dan Royan mungkin kelas juga kurang seru dan aku nikmatin bersama teman-teman di X-3.” Salut deh buat Wanda.

Aku melihat ke depan, ada Ahmad Zaki dari Madura, Heri dari Lampung, dan Birry dari Subang, ah Bandung juga deh sih haha. Mereka bertiga selalu duduk di depan dan mereka sangat-sangat pendiam. Aku pertama kali melihat Zaki, sebagai siswa yang menyukai bahasa Indonesia dan puisi, begitu juga Birry dan Heri yang tipe orang yang suka belajar di tempat sepi.

Ketika pelajaran olahraga, aku juga kagum pada wakil ketua kelas, Rifa asal Sumedang, yang memiliki postur tubuh berotot karena sering berolahraga, dia sudah dikenal di sekolah oleh banyak orang, terutama pada bidang olahraga. Sebelah kanan dari bangku Diki ada Fajar dan Ilyas, Fajar asal Bandung sedangkan Ilyas asal Depok. Mereka senang sekali belajar hal mengenai IPA, apalagi Fajar dan Ilyas ini anak yang rapi banget, bahkan setelah pulang sekolah berjam-jam pun kalau mereka masih pake seragam, pasti masih rapi.

154655_1740981488536_1358647831_31897766_6255801_n

Satu hal yang cukup unik adalah sekolah aku memiliki sebuah asrama khusus orang-orang yang berada dari luar kota Bandung. Kelas X-3 memang penuh dengan orang-orang dari luar kota, makanya banyak juga yang tinggal di asrama, sebagian ada juga sih yang kost di Bandung. Dari sekian banyaknya teman-teman yang aku lihat di kelas X-3 membuatku sedikit envy karena aku belum banyak belajar mengenai apapun dan siapapun, pada saat SMP aku hanya mengenal kekerasan dan kenakalan saja, aku ga tau kalau banyak keunikan dan pengetahuan yang luas yang harus aku tau mengenai orang-orang sekitar. “Aku masih berada di dalam kotak, ini baru permulaan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih luas lagi, aku harus keluar kotak untuk melihat dunia yang lebih luas lagi.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑