Episode 2: Kurang Percaya Diri

Aku masih berperilaku dingin, ga suka bersosialisasi karena awalnya juga aku takut kejadian sama seperti SMP. Pada saat aku SMP aku ga mau berkenalan banyak orang karena tingkah nakal mereka di luar batas, makanya aku bilang aku nakal tapi bukan nakal yang suka merokok, kabur, minum minuman keras, dan semacamnya. Aku takut jika di SMA memiliki teman-teman yang di luar kendali, makanya aku berperilaku dingin dan seolah tidak mau bersosialisasi. Ya namanya juga masa-masanya remaja labil, belum banyak tau mengenai dunia yang sebenarnya.

Singkatnya berarti aku ini orang yang berpikir negatif terhadap lingkungan sekitar, mungkin bisa dibilang parno atau masih takut untuk berkenalan. Ya, seperti membuat blog, ada alasan kenapa aku ga membuat blog lagi setelah sekian lamanya, makanya orang-orang juga capek menunggu. Nah, aku tau yang namanya kesalahan biasanya sering diingat sama orang. Kalau kalian pernah dengar cerita guru dan murid, seperti ini:

Suatu hari seorang guru menulis di papan tulis …

8×1=7
8×2=16
8×3=24
8×4=32
8×5=40
8×6=48
8×7=56
8×8=64
8×9=72
8×10=80

Murid-murid menertawakan guru tersebut, sebab jawaban perkalian mudah “8×1=7” itu SALAH, kemudian sang guru berkata, “Saya sengaja menulis jawaban yang salah dalam perkalian pertama, karena saya mau kalian belajar sesuatu yang SANGAT PENTING. Ini untuk membuat kalian mengerti bagaimana dunia memperlakukan mu. Kalian melihat bahwa jawaban saya yang BENAR sebanyak 9 kali, tetapi tidakĀ  ada diantara kalian yang memuji saya, semua malah tertawa mengkritik karena SATU JAWABAN SALAH yang saya lakukan.
Jadi ini yang lakukan …
Dunia tidak akan memuji kalian untuk hal-hal yang baik saja, walaupun dilakukan sebanyak jutaan kali.
Tapi dunia akan mengkritik dan menertawakan kalian untuk SEBUAH KESALAHAN yang engkau lakukan, namun janganlah berkecil hati, TERUSLAH BANGKIT di atas tawaan dan berbagai kritik, KUATKANLAH HATIMU!

Kisah tersebut … benar-benar sangat sederhana, namun inspiratif, karena memang keadaannya seperti itu. Semakin kamu tinggi, semakin kamu hebat, semakin kamu kuat, semakin dewasa, kamu akan mendapatkan banyak sekali ujian, bahkan lebih besar lagi. Belajar cuek dari perkataan yang tidak seharusnya, walaupun menyakitkan tapi pasti ada hikmah dibalik itu semua.

Sebenarnya apa yang aku alami pada saat kelas 1 SMA sebagai siswa baru ini masih sebagai ujian kecil untuk melatihku agar aku kelak dewasa nanti lebih kuat dan lebih sabar, sekaligus pembelajaran untuk aku pribadi untuk mengubah diriku menjadi lebih baik lagi. Kesalahan yang aku lakukan begitu sederhana, mengkritik teman-teman sekelas, mengkritik sekolah yang sempit, mengkritik kelas yang ga kondusif dan ribut, bahkan lebih parahnya aku mengkritik tidak hanya melalui mulut, tapi aku berkomentar di jejaring sosial (social media).

Jaman dulu emang masih kesulitan buat dapet yang namanya internet, pas SMP aja kalau mau internetan harus pergi ke rental, semakin berkembangnya jaman, komunikasi jarak jauh pun semakin mudah. Pada saat SMP ada banyak situs socmed yang bisa digunakan, sebagai generasi perpindahan menuju modern, tentu banyak anak-anak muda yang pergi ke rental untuk berkomunikasi dengan banyak orang di berbagai macam tempat. Dulu pas SMP, ada socmed yang terkenal namanya Friendster, sampai kelas 1 SMA memang masih banyak pengguna Friendster, bahkan kelas X-3 membuat sebuah grup disana. Sayangnya Friendster yang aku gunakan untuk mengkritik dan menjelek-jelekan nama X-3, tentu itu membuat siswa yang lain juga marah dan membenci ku.

(foto kepal tangan)

Aku belum belajar mengenai, ‘Don’t Judge a Book by Its Cover.’ jadi wajar aja kalau aku mudah sekali negative thinking karena dampak dari pengalaman buruk sebelumnya juga, tapi wali kelas X-3 yang bernama bu Anita, pernah bilang, “Jangan lupa, setiap orang punya masa lalu yang berbeda-beda dan kita harus menghargai masa lalu mereka dan terus mendukung untuk menjadi lebih baik.” Singkatnya, aku ga boleh mikir ORANG-ORANG HARUS NGERTI AKU! Tapi … aku ga ngerti kondisi orang lain. Jadi, diharapkan aku juga bisa berubah dan mengerti kondisi yang lain, dan sama-sama saling membantu menjadi lebih baik dan sukses.

Bandung, 2008

Setiap pergi sekolah, aku ga ada semangat belajar, semakin ga semangat karena setiap di sekolah aku dijauhi oleh banyak orang. Pagi-pagi hanya menaruh tas di kelas dan keluar lagi, hampir setiap hari seperti itu. Guru BK menyuruhkan datang ke ruangan beliau. Kami bicara banyak sehingga, guru BK berharap aku memiliki sebuah niat dan tekad untuk berubah.

Rasanya sakit hati kalau ga punya temen sih, apalagi di benci. Suatu hari, aku hanya berbaring di karpet dan melihat sebuah pocket camera yang ga terpakai lagi (kualitas emang masih rendah sih). Aku coba bawa kamera tersebut ke sekolah (ga ada pemeriksaan jadi aku santai-santai aja bawa kamera ke sekolah), yang ku lakukan hanyalah memotret teman-teman X-3, secara diam-diam. Beberapa hari kemudian, beberapa teman-teman X-3 yang ga terlalu banyak memiliki masalah dengan ku akhirnya angkat bicara, mereka mulai mendekatiku dan memintaku untuk memotret mereka, seperti Diki, Niekha, Royan, Birry, Fajar, Ahmad Zaki, Adam, dan lain-lain. Walaupun agak canggung karena aku juga belum begitu dekat dengan mereka, apalagi aku masih memiliki masalah yang belum dimaafkan.

Karena setiap melakukan banyak kegiatan di sekolah aku terus memotret, aku pikir foto-foto yang aku hasilkan ini bisa aku jadikan sebuah video, walaupun hanya kumpulan foto-foto. Ya ibarat pake slideshow terus di play auto, cuman waktu itu aku bikin format-nya ke format video.

dxeps02-08dxeps02-09dxeps02-10dxeps02-11dxeps02-12

Apa yang pernah aku sebutkan, di kelas ada sebuah komputer dan TV, hasil edit-an video ku ini aku tampilkan secara tiba-tiba di komputer dan tv kelas. Hasil foto-foto yang kocak (lucu), unik, dan juga … biasa-biasa aja membuat temen-temen tertawa di kelas. Melihat foto tingkah laku Royan yang malu-maluin, tingkah laku Diki, dan teman-teman yang lain. Berhari-hari aku terus memotret dan aku langsung diberikan jabatan seksi dokumentasi khusus untuk kelas X-3 (walaupun aku sebenarnya memang seksi *apasih ah*), meskipun aku ga handal dalam bidag fotografi, tapi aku menampilkan foto-foto yang membuat mereka berkesan.

Tapi ini semua belum cukup membangkitkan rasa percaya diriku di kelas dan aku masih belum sanggup bersosialisasi dengan baik. Pada saat pelajaran olahraga maupun acara PORAK (Pekan Olahraga Antar Kelas) yang biasa diselenggarakan di sekolah, aku lebih sering berdiri dan duduk di bagian pinggir lapangan jika ada pertandingan, hanya memotret dan menonton. It sucks you know! Hahaha, aku aktif banget di SMP kalau dalam berolahraga, tentang basket, berenang, futsal, lari, apapun itu. Seriusan aku ingin berpartisipasi juga membuat kelas X-3 juara, cuman tanpa aku juga udah juara ternyata hahaha dan ya udah deh jadi fotografer aja di sekolah.

Sejujurnya agak sedikit envy karena kebanyakan orang memandang ku ga bisa berolahraga, atau bisa jadi masih ada yang benci sama aku jadi aku ga pernah diajak main. Setiap sekolah sepi, biasanya aku berolahraga sendirian, bermain basket sendirian, latihan sendirian, bermain futsal sendirian, dan sebagainya, terkadang masih memakai baju seragam dan sering banget di usir sama satpam.

Bandung, akhir tahun 2008

Tingkat percaya diriku memang semakin membaik, minimal target pertama ku adalah ingin membuat lingkungan sekitar nyaman dengan keberadaan ku ini, banyak yang ngajak ngobrol dan main, setidaknya perbaikan pertama yang harus aku lakukan adalah cara bersosialisasi, cara bicaraku ini yang perlu di ubah. Meskipun belum berani bicara langsung untuk berkenalan dan semacamnya, tapi berkat bantuan Diki sebelumnya mengenai masalah mencatat, ternyata berguna juga haha. Waktu itu ada beberapa temen X-3 yang ga bawa catatannya, salah satunya Irma atau biasa dipanggil Iam. Aku meminjamkan buku catatanku untuk Iam, dan mungkin ini pertama kalinya aku membantu teman sekelas untuk belajar haha.

Suatu hari, guru BK masuk ke kelas X-3 dan menyuruh kami untuk menyobek 1 kertas untuk 1 orang, setelah itu kami duduk melingkar sehingga ga ada yang duduk di depan maupun belakang, teman-teman harus ada di kiri dan di kanan (you know what i mean). 1 kertas yang sudah disobek sebelumnya diberi nama masing-masing, jadi ga ada 1 kertas untuk 2 orang atau lebih, udah pasti 1 kertas untuk 1 orang. Kertas tersebut di oper bergilir ke kanan secara bergilir, misalnya kertas si A dioper ke si B, suruhannya mudah, si B harus menulis kata-kata positif mengenai nama orang yang ada di kertas tersebut, jadi otomatis si B nanti nulis hal-hal yang positif tentang si A, begitu juga untuk putaran selanjutnya, B akan mengoper kertas si A ke si C, si C juga akan menuliskan kata-kata positif untuk A. Paham, kan? Sampai kertas itu balik lagi ke pemilik aslinya, pemilik kertas akan membaca semua kata-kata positif yang diberikan oleh teman-teman. Ada yang terharu, ada yang menjadi bersemangat, ada yang bahagia, ada yang malu-malu ga mau lihatin kertasnya.

Lalu bagaimana dengan aku? Aku masih bukan orang yang hebat dalam bersosialisasi, dan aku berpikir bahwa aku belum bisa memberikan hal-hal yang menyenangkan kepada teman-teman karena aku malu dan disisi lain agak kurang ajar (bicara yang tidak seharusnya), tidak sedikit orang yang tersakiti oleh perkataanku di sekolah, sehingga banyak teman-teman menjauhiku. Aku merasakan rasa sakit hati pertama kalinya, oh jadi gini lho ketika kamu dimusuhin teman-teman di sekolah, bahkan ketika ingin presentasi di depan pun seperti tidak dihargai. Eh tapi ternyata, trik yang diberikan guru BK membukat tersadar dan menyentuh hatiku ketika aku membaca perkataan positif dari teman-teman yang ada di kertas.
Orangnya baik, mau banget ngasih buku catatannya buat aku belajar.”
Hebat dalam masalah teknologi, semangat terus.”
Jago gambarnya, tingkatkan skill-nya.”
Sering-sering foto temen-temen ya, kita banyak kenangannya juga.”
Bisa jadi leader yang hebat suatu saat nanti.”

Walaupun entah sebenarnya kenapa temen-temen X-3 bisa nulis kaya gitu dan masih ada banyak lagi karena 1 kelas ada banyak, aku cuman bisa bilang terima kasih banyak dan aku akan berusaha jadi orang yang lebih baik. Dari cerita diatas, aku yakin bisa membuat seorang anak menjadi lebih percaya diri, karena banyak masukan dan perkataan positif dari teman-teman, khususnya untuk orang-orang yang pemalu dan selalu gugup bicara di depan teman-temannya (itu juga bimbingan dari guru-guru yang tidak membuat muridnya “jatuh”). Jujur saja, aku sendiri ga terbiasa dengan hal seperti itu, berbeda jauh pada saat aku SMP, bahkan aku ga pernah menjadi ketua, ga pernah bicara di depan banyak orang dengan santai, walaupun di SMA aku juga masih cupu dalam hal presentasi, tapi teman-teman yang mendukungku untuk terus berbicara di depan dan memilihku menjadi ketua. Seriusan X-3 keren banget, awalnya aku ga suka di sekolah ini, tapi ternyata memang ya Tuhan punya jalan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Di sekolah ku juga biasanya mengadakan kompetisi drama yang selalu diselenggarakan di sekolah setiap tahun, drama tersebut harus menggunakan bahasa Inggris. Aku punya banyak pengalaman gagal, seperti gagal mengatur kelompok, gagal berbicara dengan lancar di depan banyak teman-teman, aku masih gugup dan malu, tetapi walaupun sering menunjukan kegagalan. Suatu hari, guru English Club menanyakan “WHO IS THE DIRECTOR FOR YOUR DRAMA?” Posisi itu memang jangan dianggap mudah juga, bahkan Diki, sebagai ketua kelas memang agak kesulitan untuk mengatur teman-teman X-3. Guru kami memberikan kesempatan untuk mem-voting siapa yanga kan menjadi direktornya. Aku sedikit terkejut karena aku dan Diki mendapatkan voting terbanyak, bahkan seimbang. Jujur saja, aku sedikit terkejut ketika Fadhlan sebagai voter terakhir memilihku sebagai direktor karena hasil yang seimbang dengan vote Diki, kenapa beberapa orang memilihku sebagai direktor drama English Club, sedangkan aku ga jago bahasa Inggris dan juga ga jago mengatur mereka. Apa mereka mempermainkanku? Agar aku dipermalukan juga? Hmm TIDAK! Jawabannya beberapa dari mereka memilihku bukan karena untuk menjatuhkanku, tapi mereka memilihku agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, walaupun agak fatal karena aku ga ada pengalaman menjadi ketua atau direktor.

Script-nya udah ada kok, jalan ceritanya juga udah ada, peran-perannya udah ada karena bukan aku yang menulis naskah ceritanya untuk drama nanti, aku memang juga mulai berusaha belajar sendiri dan belajar gimana mengatur kelas untuk latihan, memantau juga beberapa orang yang membuat properti, kostum, dan sebagainya. Mengatur dana pun aku perlu pantau, ikut juga bersama mereka yang berjualan untuk mencari dana. Walaupun di kelas aku sebagai seksi dokumentasi, tapi sebagai direktor drama ini juga aku tetap memotret mereka. Kami latihan biasanya di masjid dekat sekolah, biasanya juga buat istirahat suka pada makan cuanki haha.

Dari kegiatan memotret, berolahraga, kegiatan belajar, kegiatan drama yang menjadikan aku director, dan semacamnya, sosialisasiku semakin membaik, bersyukur kalau semakin lama aku semakin banyak teman.

Terus gimana kalau punya temen yang, suka menjatuhkan temannya sendiri, suka gossip, ga bisa diatur, sombong, dan sebagainya? Sejujurnya, ada beberapa orang yang kaya gitu di sekolah, ya mungkin masih labil tapi aku juga ga bisa ngomong banyak, singkatnya mengenai mereka sih emang malah jadi kebalikan dari aku, dari yang bergaul malah jadi dijauhin, dari yang pintar, malah jadi males-malesan, dan sebagainya.Jadi tetaplah berhubungan baik dengan teman-teman, jangan menjatuhkan, jangan iri, jangan sombong kalau punya ilmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑