Episode 7: Perjalanan dan Kiki Kecil

Selama kelas 1 SMA, aku mulai belajar dengan banyak orang, tidak hanya Ilyas yang ngajarin aku terus-menerus. Ilyas juga butuh waktu untuk mengajari teman-teman yang lain dan bermain bersama teman-teman yang lain. Ya memang menjelang UAS kenaikan kelas ini membuat kami terus-menerus mencoba dan berusaha untuk belajar lebih giat, walaupun para siswa di kelas X-3 ini tergolong umum, karena kelas yang ribut dan sebagainya, tapi mereka (aku dan X-3) juga punya tekad untuk naik kelas, ga mau tinggal kelas.

Karena aku juga ingin merasakan metode belajar yang lain dan belajar bersama teman-teman yang lain, kebetulan esok hari, pada hari Sabtu kami ada kelas Matematika, walaupun jam untuk belajar di hari Sabtu memang lebih singkat, tapi ya sekalian deh aku juga kan mau belajar matematika, masa terus-terusan Kimia sama Ilyas hahaha. Nah salah satu di kelas X-3 yang bisa dikatakan siswa teladan dan memiliki nilai yang bagus juga adalah Birry. Beberapa orang yang nilainya masih suka dibawah rata-rata atau memang selalu dapet nilai rata-rata ya pastinya pengen dong ya naik kelas pas nanti UAS.

Bandung, 2009

Untuk itu, teman kami, si anak paling tinggi kedua di kelas, namanya Rangga, dia juga punya tekad untuk belajar, khususnya Matematika. WOKEYYY di hari Jum’at, Rangga mengajak Birry dan teman-teman, siapapun untuk belajar bersama di rumahnya. Birry adalah anak yang paling susah buat diajak bermain atau belajar bareng, karena Birry ini emang tipe belajar yang suka sendirian, apalagi kesulitan Birry sih masih sulit diizinkan oleh orang tuanya, terutama perizinan dari sang Bunda. Ketika Birry sudah diizinkan untuk pergi. Rencananya pulang sekolah, setelah shalat Jum’at, mereka akan berangkat bersama-sama pergi ke rumah Rangga, siapa saja mereka yang dimaksud? Ada aku, Birry, Rangga, Royan, Adam, Wanda, Hamzah, Zaqi, Kiko (teman Rangga dari kelas lain), terus siapa lagi? Cuman segitu atau ada lagi ya? Kasih tau aku ya nanti kalau ada yang kurang, agak lupa-lupa inget soalnya.

Setelah shalat Jum’at, kami istirahat sejenak di sekolah dan ngobrol-ngobrol, ada juga yang main basket, ada yang lagi makan mie, dan sebagainya sebelum berangkat. Agak sore kami mulai berangkat tapi kami ternyata memiliki beberapa BAD SIGN (sinyal-sinyal atau kendala yang sebenarnya tidak mengizinkan kami pergi), ya feeling buruk. Kami berangkat menuju rumah Rangga bersama-sama tapi eh baru beberapa meter pergi dari sekolah, tas Royan tertinggal, membuat kami menjadi harus menunggu Royan mengambil tasnya dan membutuhkan waktu beberapa menit, apa itu dijadikan sebagai tanda KENDALA PERTAMA? Tapi ya itu sih baru tas yang tertinggal sih wajar-wajar aja kalau Royan tuh gampang lupa orangnya.

Karena kami ga mau terkena macet di perjalanan, kami memilih untuk memilih melewati jalan pintas. KENDALA KEDUA, tepat di Jalan Muararajeun, Cihaur Geulis, Cibeunying Kaler, Kota Bandung (aduh lengkap amat). Terdapat 2 orang yang menghentikan Adam pada saat dalam perjalanan. Aku yang sedang mengendarai motor melihat ke arah kaca spion, melihat mereka dihentikan, aduh mau ga mau aku yang juga mengendarai motor, memutar balik kendaraanku dan menemui mereka yang tertinggal di belakang karena di cegat sama orang yang ga dikenal. Setelah balik arah, LHO LHO LHO … kok malah mereka malah menuju jalan yang sempit, entah apa yang dikatakan orang itu sehingga teman-teman masuk ke dalam jalan-jalan sepi. Ada yang tidak beres, karena mendadak mereka masuk ke dalam jalan yang sepi, aku berjalan agak jauh di belakang mereka semua, aku meneliti plat nomor motor mereka, jenis motor, sticker, pakaian mereka, wajah mereka, aku mengingat semua itu dan aku simpan dalam otak ku untuk berjaga-jaga.

dxeepp7.jpg

Kami berada di lokasi tersebut, sepi tanpa ada pengendara yang lewat, begitu juga orang-orang yang beraktivitas, tempat apa ini, dan pertanyaannya? Kenapa mereka pada mau ngikutin orang yang ga dikenal itu? Yang dicegat Adam, tapi Rangga yang juga kena. Apa Adam dan Rangga pernah bertemu mereka? Berkendala dengan mereka? Ya aku ga ngerti, aku cuman pengen cepet ke rumah Rangga.

Selain Adam dan Rangga, kami memang agak sedikit menjauh dari orang asing itu, kami ga mau berurusan. Salah satu orang asing itu, memiliki badan besar, sepertinya dia ketuanya HAHAHA, mereka menghampiri kami dan mengajak berkenalan, “Tunggu sebentar ya, ada urusan dulu. Santai aja, ga kenapa-napa kok. Kenalin, nama saya, KIKI KECIL.” What? Kiki? Kecil? Apanya yang kecil? BURUNG SITU YANG KECIL HUH? BADAN GEDE GITU DIBILANG KECIL! Buat teman-teman jangan pernah mau ngikut-ngikut orang yang ga dikenal deh, namanya aja udah bohong, Kiki Kecil tapi badannya segede gerobak sampah.

Aku, Wanda, Royan, Birry, dan sebagian teman-teman hanya menjauh dari mereka dan mau ikut campur rasanya nanti bakal ada perselisihan. Jadi kami juga menunggu urusan mereka selesai. Eh tiba-tiba Rangga dibawa pergi dulu sama Kiki Kecil, entah kemana. Aku melihat wajah Kiki Kecil yang butek kaya ga mandi, mata merah kaya habis mabok, dan sebagainya. WAH UDAH PASTI GA BENER NIH! Tapi kenapa Rangga ikut? Kalau Adam akhirnya bersama kami, tapi Rangga malah dibawa pergi.

Kami pengen ikut dibilang jangan ikut, jadi ya udah deh nunggu aja, bingung juga sebenarnya ini ada apa sih? Padahal jumlah kami lebih banyak. Daripada MAEN HAJAR! Alias main hakim sendiri menghajar orang, aku pikir lebih baik menghubungi polisi karena ada sesuatu yang ga beres. Tapi … SO STUPID, aku beneran ga tau nomor kantor polisi darurat tuh berapa ya? HAHAHA, aku kebanyakan nonton film luar Negeri, tentang action atau berita tentang polisi di luar, cuman tau 911 aja.

dxepis07

Catatan: PELAJARI DAN INGAT NOMOR TELEPON DARURAT DI INDONESIA (terutama yang punya handphone/smartphone)

Aku pikir hanya aku yang ga tau nomor darurat polisi, pada saat aku tanya teman-teman yang lain, eh pada ga tau juga, terbukti kita sebagai pelajar Indonesia, benar-benar membutuhkan informasi darurat semacam ini. Di sekolah ga diajarin nomor polisi, atau setidaknya ada iklan gitu tentang nomor darurat, yang bisa terus mengingatkan para penonton. Mungkin bisa dikasih lagu agar mudah diingat nomor-nomor darurat di Indonesia, selain polisi aja. PENTING LHO!

Pantes aja tingkat kejahatan disini juga cukup ya agak tinggi juga sih karena sepengelamanku banyak anak-anak kecil di palak (meskipun anak kecilnya udah belajar bela diri, tapi tetap saja yang namanya orang dewasa main seenaknya kalau jahat mah), anak SD di bully anak SMP, tawuran, dan semacamnya. Apa-apaan ini!

Kami punya handphone/smartphone tapi ga tau nomor darurat karena kayanya emang ga ada pelajarannya deh, eh maksudnya emang keterbatasan informasi dan kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia juga dalam menghadapi situasi darurat seperti itu ga banyak yang tau apa yang harus dilakukan. Kebanyakan kalau ada orang yang berbuat jahat, pada memiih jalan kekerasan balik dan main hakim sendiri, sehingga kadang tersangka tewas tanpa di selidiki, kan gila aja, udah ada polisi tapi pada di hajar warga. Ya itulah kenapa, tingkat kejahatan juga kebanyakan dilakukan secara diam-diam, ga kaya di luar Negeri, kejar-kejaran ama polisi juga udah kaya main GTA (Grand Theft Auto) *apasih* kebanyakan main game nih.

Balik lagi bercerita. Ok, dimana Rangga, tiba-tiba si Kiki Kecil balik lagi ke lokasi kami dan merampas handphone/smartphone seolah-olah kami dihipnotis olehnya. Matanya yang merah apalagi kami semua berjabat tangan dengannya membuat kami seolah tidak sadar bahwa handphone/smartphone kami dirampas oleh orang-orang asing tersebut.

Terlihat kami seperti orang bodoh yang tidak melakukan apa-apa. Kami ingin melakukan kekerasan tapi ga ada yang bisa karena kami menggunakan pakaian seragam dan takut bermasalah dengan sekolah, kan bahaya juga untuk junior-junior kami, masa nanti ada tawuran antar sekolah. Lagi pula kami juga ga tau kalau orang asing itu bersekolah atau ngga, jadi kami memiih diam dan menunggu Rangga. Selain itu, kami juga ga tau nomor darurat di Indonesia untuk menghubungi polisi. Wajar kami jadi kebingungan harus berbuat apa yang ada malah menunggu lagi. Kami menjadi sadar setelah handphone/smartphone dirampas dan mencoba mengejar mereka, walaupun pada akhirnya ga berhasil ditemukan.

MENCARI RANGGA

Kami berpisah, khususnya mencari Rangga dan sebagian pergi ke kantor polisi. Sekian lama mencari akhirnya Rangga di temukan dan kami bergegas meuju kantor polisi. Aku benar-benar menjelaskan semuanya dengan cepat, PAK, PLAT NOMOR MOTOR …. blablabla … tolong dicari dan itu orang berbahaya. Aku menjelaskan semuanya dengan rinci terutama ciri-ciri mereka.

Bapak cuman bilang, “Yuk tenang, kita duduk dulu disini, terus lapor, nanti kami ketik.” Setelah semuanya memberikan penjelasan, aku dan teman-teman menunggu sampai adzan Maghrib. Setelah itu, salah satu orang datang, “Begini, nanti kami lakukan menyelidikan, jadi tunggu saja kabar dari kami, sayangnya plat nomor yang Anda sebutkan tidak kami temukan.” Hmm, kok tampangnya ga yakin ya, karena sampai detik ini aku menulis blog episode ini tahun 2016! 7 TAHUN GA ADA INFORMASI! Selamat dan makasih! Ya udah deh ahh, kami melaksanakan shalat maghrib disana dan mulai berangkat lagi.

Jangan tersinggung yang baca ini, CONTOH: Seorang murid kehilangan pulpen karena dicuri oleh temannya secara diam-diam, jika ditanya pasti ga ada yang ngaku. Makanya seorang murid itu mencoba mencari cara untuk mendapatkan pulpennya kembali dengan cara meminta bantuan sang Guru, namun sang Guru hanya berkata, “Ya udah ga apa-apa, nanti beli lagi aja.” Lha? Ga dicari tuh pelakunya? Lama-lama emang murid itu jadi kesel dan ya udah deh pasrah beli lagi walaupun GA MUDAH UNTUK BELI BARU. Jika Guru ga menyepelekan seperti itu dan mau memeriksa setiap muridnya satu per satu di kelas, ya ga menutup kemungkinan pelakunya ketemu. Itu sebagai contoh sederhananya aja sih, nah sayangnya kasus ini belum kami lanjutkan lagi. Ya udah, bertahun-tahun kami menunggu ya pasrah aja dah ikhlas, beli nomor dan barang baru lagi. KEENAKAN DI PENJAHATNYA DONG?

BERANGKAT LAGI DAN BERSIAP MENGHADAPI KENDALA SELANJUTNYA

Kami pergi menuju rumah Rangga lagi, entah kenapa kami tetap memaksakan diri kami untuk pergi. KENDALA KETIGA adalah HUJAN DERAS SANGAT SANGAT SANGAT DERAS, SUPER DERAS, bener deh itu tumben banget hujan sebesar itu. Sedikit-sedikit berhenti, sedikit-sedikit berangkat lagi, terus aja begitu karena hujannya sangat besar sampai seragam kami pun basah haha.

KENDALA KEEMPAT adalah ban motorku mendadak bocor, terpaksa harus ditambal ban. KENDALA KELIMA AKU GA BAWA UANG, sehingga Adam memberikan pinjaman menggunakan uang tabungannya, aduh makasih ya Adam, tanpa Adam, aku juga ga bisa bayar tambal ban itu hahaha, karena Adam juga percaya aku pasti bakal kembaliin uangnya, jadi ya udah deh pake uang Adam dulu. Pada saat ban motorku ditambal, Rangga, Zaqi, dan Kiko memang berangkat duluan ke rumah Rangga.

KENDALA KEENAM, kami mendapatkan kabar kalau Rangga, Kiko, dan Zaqi terpeleset dari motor karena licin dan hujan deras, ya ampun sampe segitunya dan mereka cuman luka-luka ringan. APAAN SIH NIH! MAU KE RUMAH RANGGA AJA KOK JADI KAYA BEGINI. beberapa menit kemudian, kami mendapatkan kabar kalau Rangga, Kiko, dan Zaqi sudah sampai di rumah Rangga, tinggal menunggu yang lain hadir. Eh KENDALA KETUJUH, ban motor Adam kempes jadi harus diisi angin dulu huft.

Sesampai di rumah Rangga, kami disambut hangat huhuhuh, akhirnya sampai juga semuanya di rumah Rangga, jam menunjukan pukul 9 atau 10 malam, lupa deh, karena memang di kantor polisi kami memang neduh dulu setelah shalat Maghrib, ditambah dalam perjalanan hujan semakin deras sehingga kami kelamaan berteduh, apalagi ban motorku harus ditambal, jadi pasti makin ngabisin waktu banget selama perjalanan, makanya sampai di rumah Rangga udah jam-jam harusnya tidur.

KONDISI DI RUMAH RANGGA

Semua memang jadi berantakan, tapi ini tujuan kami benar-benar niat besar untuk belajar Matematika, apalagi hari Sabtu kami ada kelas Matematika. Sebagian udah ga ada yang niat buat belajar, paling cuman ngerjain tugas aja, Rangga menyediakan banyak permainan, komputer, PS2, DVD buat nonton film, kasur, dan banyak makanan. Adam kelelahan dan langsung tidur, sedangkan yang lain ga tidur dan memilih untuk menghibur diri mereka masing-masing dengan cara bermain.

Pukul 2-3 pagi kami baru tertidur dan bangun jam 5 pagi. KURANG TIDUR KARENA KELELAHAN DAN MAIN HAHAHA! Setelah shalat subuh, Ibunda Rangga memberikan kami roti yang enak untuk sarapan, kami harus cepat-cepat berangkat sekolah karena ternyata sudah jam 6 belum pada mandi. Kami siap untuk berangkat sekolah, baru berangkat jam 7:11 pagi, gilee perjalanan ke sekolah juga agak jauh dan kami baru berangkat dari rumah Rangga jam 7 lebih 11 menit.

DI SEKOLAH REPOT LAGI

Perjalanan menuju sekolah begitu aman tanpa terkenala, tapi memang sesampai di sekolah hampir sekitar jam 8 kurang atau setengah 8-an. Sesampai di sekolah kami langsung memarkirkan motor kami tapi ga bisa langsung masuk kelas, karena kami ketahuan olah pengawas dan menyuruh kami untuk berdiri di lapangan dengan sinar matahari yang panas menerangi kepala kami (KENDALA KE-8). Di lapangan kami dimarahi habis-habisan dan pengawas langsung pergi ke dalam sekolah lagi. Kami masih berjemur di lapangan dibawah sinar matahari. Aku hanya menundukan kepala dan merasa kesal, ARGH AKU TIDAK BISA DIAM!

Aku pergi masuk ke sekolah diikuti oleh teman-teman yang lain dibelakang, aku menemui pengawas, “Pak, mohon maaf kami mendapatkan banyak kendala dari kemarin, ini surat polisinya.” (sambil nunjukin surat keterangan). Setelah itu, pengawas masuk ke ruang guru dan menyuruh kami menunggu. Beberapa saat kemudian, kami langsung dibawa ke pertengahan sekolah dan duduk dekat kolam, guru-guru dan Kepala Sekolah memberikan banyak pertanyaan dan kabar kami.

Setelah banyak di interogasi oleh pihak sekolah dan menyarankan agar lebih hati-hati lagi, akhirnya kami diizinkan masuk ke kelas. Tentu muka kami sangat malu pastinya masuk ke kelas jam 9 kurang, ya ampun. Tentu membuat teman-teman X-3 lainnya juga kaget dan kebingungan kenapa baru pada datang dan muka-muka kelelahan. Pulang sekolah ternyata kejadian ini tersebar dengan cepat oleh kalangan senior-senior dan karyawan di sekolah juga. Banyak dari kami menceritakan semua apa yang terjadi kemarin. Udah kaya kakek yang bercerita pada cucu-cucunya karena banyak banget yang pengen diceritain. Well ya, dari kisah ini semoga bisa jadi pembelajaran untuk pembaca, khususnya kejadian dari KIKI KECIL itu bisa jadi lebih berhati-hati.

Tujuannya sih baik, dan aku juga ikut ke rumah Rangga karena mencoba belajar dengan suasana yang baru, tanpa Ilyas yang membimbing ku pada saat itu. Syukur, kejadian kejam itu terlalu berlalu, UAS pun tiba dan kami harus berusaha keras untuk naik kelas. Kami berjuang bersama-sama, belajar bersama-sama, bermain bersama-sama, kami akan tetap bersama dan saling bertemu walaupun suatu saat kami akan berpisah juga. Yaa aku emang gagal untuk masuk ke jurusan IPA, sedih banget, tapi ya udah sih kalau emang takdirnya aku masuk IPS, aku selalu bersyukur. SEKALI LAGI, PELAJARI NOMOR DARURAT DAN JANGAN MAU MUDAH IKUT ORANG ASING YANG GA DIKENAL, KALAU BISA KALIAN BELAJAR BELA DIRI!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: