Episode 17: Menuju Perang (Bagian 2)

Perpindahan antara sistem belajar yang biasa menulis di buku, berubah menjadi mengetik di notebook computer atau laptop memang sudah terlaksanakan sejak kami memasuki kelas 3 SMA, sudah banyak junior-junior juga yang membawa notebook computer ke sekolah, walaupun ya ada aja kejadian yang tidak diinginkan, diharapkan tetap hati-hati bawa barang berharga, apalagi masih anak sekolahan.

Guru-guru memang agak kerepotan karena sering banget kurikulum di ubah-ubah, ada yang ditambahin, ada yang di kurangin/hilangin, jadi kan bingung ya? Selain itu era modern ini kami perlu dibiasakan dengan berbagai macam gadgets. Semakin lama sistem modern ini juga digunakan untuk Ujian Nasional yang akan dilaksanakan untuk junior-junior kami, sebutannya UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), tapi pada saat kami melaksanakan UN, kami tidak merasakan UNBK, karena angkatan kami masih fokus mengerjakan di kertas, bukan di komputer. Ga lama itu ada rumor tahun 2017 bahwa UN akan dihapuskan, aduh memang ada positif dan negatifnya sih tapi memang jadi agak pusing ya hahaha, tapi ya sudahlah, ga tau ke depannya gimana? Apapun itu semoga bisa menjadikan generasi Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Bandung, 2011

Setelah acara yang mengerikan itu berakhir, tapi kami harus tetap melanjutkan sekolah kami seperti biasanya, berkegiatan seperti normal lagi, tidak ada keringanan dan membuat kami harus belajar sampai sore hari. “Sedikit lagi ya sedikit lagi.” Aku terus mengatakan kata-kata tersebut di dalam hati, di pikiran ku juga. Sekitar kurang dari 1 bulan menuju Ujian Nasion, di kelas pada sore hari aku sedang mengajari teman sebelahku, mendadak aku teringat masa lalu ku. Dulu aku kan ga seperti ini, aku ga bisa bersosialisasi, aku juga ga pernah belajar mandiri atau belajar bareng temen, bahkan aku ga pernah ngajarin orang sebelumnya.

Hal tersebut memang membuatku sedikit goyah beberapa hari menuju pelaksanaan Ujian Nasional, 3 tahun aku sudah berubah di SMA, apakah aku bisa mengerjakan UN atas hasil kerja keras ku sendiri tanpa curang sedikit pun? Karena di dalam hati ini, masih ada rasa ketakutan jika aku gagal lagi, SAMA SEPERTI pada saat aku duduk dibangku kelas 1 SMA mengerjakan kuis Kimia (episode sebelumnya). Aku sudah banyak teman, walaupun tidak sedikit juga mereka mengatakan, “Ada kunci jawaban ga sih?” Aku tidak terpengaruh sedikit pun, aku tidak peduli apa yang mereka lakukan, yang jelas aku fokus pada usaha ku sendiri, kalau pun ada yang berbuat curang atau ngajak curang, aku akan memilih untuk MENOLAK.

Aku masih punya tekad kecil yang ingin aku lakukan, yaitu lulus UN dan masuk kuliah atas hasil kerja keras ku sendiri. Kamu tau? Itu adalah hal yang ga akan kamu lupain, kapan lagi kalau harinya udah tiba, aku harus coba bekerja keras dan lulus bangga karena aku berusaha sendiri, tanpa curang.

KELAS DI SORE HARI

Saat aku sedang mengajari teman ku di kelas, aku tidak sadar kalau Royan dan Diki menghilang alias tidak ada di kelas. Tiba-tiba, aku mendapatkan SMS dari Diki, “Dateng sini, cari kelas yang gelap dan ada TV menyala.” Sial mereka malah mau main petak umpet disaat jam pelajaran. Aku meminta izin keluar kelas, sebelum kelas bubar aku harus cepat-cepat menemukan mereka. Aku susah payah berlari ke sana-sini untuk mencari kelas yang kosong, ada beberapa kelas yang kosong dan gelap, tapi tidak ada TV yang menyala di ruangan tersebut. Capek-capek ngelilingin sekolah, eh ternyata mereka ada di kelas sebelah. Aku masuk dan “Kalian sedang apa disini hahaha malah diem di tempat gelap, bahaya nih kalian.” Royan dan Diki disana istirahatin kepala, Diki lagi internetan sedangkan Royan sambil makan dan nonton TV. Hebat ya, ga ketahuan guru BK hahaha.

imgph2011-2imgph2011-9

Guys, jangan salah paham, Diki dan Royan memang kabur dari kelas bukan karena merasa sudah pintar atau mereka nakal, begitu juga aku yang ikut mereka keluar kelas. Ada beberapa alasan kenapa kami melakukan itu, sebenarnya ini bukan nakal. Apa yang udah aku bilang sebelumnya, otak kami benar-benar dipaksakan untuk menyerap informasi setiap hari, bahkan seperti acara sekolah yang diadakan sebelumnya, belajar hampir 18-20 jam setiap harinya. Bukannya di kasih waktu untuk istirahat, tapi memang kami harus belajar seperti biasa lagi setiap hari dari pagi sampai sore, jelas aja otak makin lama makin ga kuat nampungnya, apalagi setiap hari DUDUK BERJAM-JAM DI SEKOLAH tanpa adanya hiburan, CUMAN DENGERIN GURU NGOMONG DAN MELIHAT KE PAPAN TULIS TERUS-MENERUS, tapi ya gimana lagi sistem pendidikannya memang gitu.

MEH! Jujur saja, bukan hanya aku, Diki, dan Royan yang seperti itu, ternyata ga cuman kami, tapi ada banyak siswa lainnya yang suka keluar kelas untuk mengistirahatkan otak mereka tapi ga gabung sama kami, dan rata-rata murid-murid yang ranking lho atau siswa yang juara di kelas. Aneh ga? Biasanya yang suka kabur dari kelas tuh anak-anak yang pemalas, cuman mau merokok, nongkrong-nongkrong buang-buang waktu, sedangkan di sekolah kami kebanyakan anak-anak yang pintar-pintar dan juara yang suka keluar kelas, karena metode belajarnya mereka juga ga mau ditekan sehingga bikin otak juga jadi sakit dan lelah. Tentu tidak akan kondusif, aku ngerti kok posisi guru, udah jadi tugasnya untuk membuat murid sekolahnya lulus, tapi yaa kalau bisa sikap dan caranya juga harus bisa memberikan pedoman yang baik, bukan semata teori dan ilmu di sekolah yang di kasih ke muridnya, memang agak susah bikin jam yang singkat untuk belajar tapi juga kondusif dan bisa membuat otak murid-murid menerima ilmu dengan baik.

Menjelang Ujian Nasional, kebanyakan dari Deotrix dan teman-teman satu sekolah melakukan hiburan dengan cara pergi ke mall, nonton bola sampai begadang, makan-makan di luar sambil ngobrol-ngobrol, ada juga yang cuman pengen tidur di rumah males kemana-mana, dan bahkan mungkin ada juga yang masih suka belajar walaupun di sekolah udah kaya seharian penuh belajar, cuman baca-baca dikit lah pasti ada itu mah, dan lain-lain.

Sebanarnya beberapa guru memang ga suka kalau murid-muridnya dipaksakan belajar seperti ini apalagi sudah kelelahan kurang tidur, ada beberapa guru memang menyarankan kami untuk main, tapi kan ya kembali ke masalah keluarga, nanti orang tua bertanya “Mau kemana? Dikit lagi UN, jaga kondisi, jangan main dulu.” ya mengertilah maksudnya. Ya main puas nanti aja setelah UN kan bisa bebas, ya ga? Setelah UN kita bebas banget lho, jadi saran dari aku juga sih sebenarnya istirahatin kondisi tubuh dan otak. Setelah UN ada masanya main-main puas, (walaupun nanti ada ujian masuk ke perkuliahan) hahaha, setidaknya ada libur panjang kok. Terakhir, jangan lupa banyak-banyak berdoa, harusnya sih bukan hanya sebelum ujian saja, tapi kapanpun, dimanapun, tetap harus berdoa. Jangan cuman rajin berdoa pada saat hasilnya belum diumumkan, pada saat hasilnya diumumkan eh malah ga rajin berdoa haha. Jangan gitu ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: