Episode 18: Perang Awal

Tidak aku sangka 3 tahun di SMA sudah berlalu begitu cepat, selama 3 tahun aku mendapatkan banyak ilmu, teman, sikap yang baik, pola pikir yang berbeda, dan sebagainya dari lingkungan di sekolah. Ya, aku tau agak berlebihan jika ini dikatakan perang, karena perang yang dimaksud adalah Ujian Nasional. Kenapa aku sebut perang, karena perang awal sesungguhnya dimulai dari lulusnya Ujian Nasional di SMA, apalagi apa yang sudah aku katakan sebelumnya, di UN kali ini aku bekerja keras atas usahaku sendiri, tanpa tujuan curang, tanpa tujuan kerja sama.

UN di SMA memang masih tergolong mudah, tapi memang tidak semudah di SD dan SMP hahaha, tapi walaupun begitu lulusnya SMA tentunya akan mendapatkan sesuatu dan lingkungan yang baru. Tentu, akan berbeda dari sekolah pada umumnya karena memasuki dunia perkuliahan dan dunia kerja nantinya, itulah mengapa aku sebut Perang Awal.

Sudah masa-masanya libur tapi bukan liburan sih, libur yang kami dapatkan adalah hari tenang, alias dimana kami harus beristirahat dan menjaga kondisi kami beberapa hari sebelum Ujian Nasional dilaksanakan.

5 HARI MENJELANG UJIAN NASIONAL

Wajar sih, aku juga manusia, aku mendadak ga bisa tidur karena memikirkan UN hahaha, soalnya aku masih sedikit takut jika aku masih sama seperti aku yang dulu. Memang banyak perubahan ketika aku sudah masuk SMA, apalagi naik ke kelas 2 dan 3 SMA, tapi ya ini menjadi tantangan sendiri bagaimana aku menyelesaikan situasi ini, belajar sebelum kuliah hahaha. Aku keluar cari udara segar dan ada Ilyas di McD Dago bersama Ressa, teman sekelas Ilyas di kelas IPA. Aku kesana bertemu dengan mereka dan eh ternyata mereka lagi belajar hahaha. Aduh aku jadi takut ganggu mereka lagi belajar.

Pada saat Ilyas pergi ke toilet, Ressa berkata pada ku, “Jangan gelisah, aku lebih seneng liat kamu tersenyum dan tertawa seperti biasanya di sekolah, dah banyak yang tau proses perjuangan kami kok, jangan khawatir, pasti kamu bisa ngerjain UN dengan jujur.” Wow banget kata-katanya bikin aku agak tenang sedikit sih, tapi aku cuman bisa tersenyum dan mengatakan “Iya, makasih.” haha. Lalu Ressa mengatakan hal lain kepadaku, “Habis ini mau kemana? Mau nginep di Ilyas? Jangan lupa satu hal, yaitu santai dan tenang dalam kondisi sesuatu.” Hmm ya aku tau, santai yang dimaksud juga mengara pada ga panik dan ga tegang, aku memang harus bisa mengendalikan diri agar tidak mudah panik.

3 HARI MENJELANG UJIAN NASIONAL

Aku, Ilyas, dan Ressa pulang dari McD Dago naik angkot, sayangnya kami tidak bisa mengantarkan Ressa sampai rumahnya, jadi aku dan Ilyas harus turun duluan, tapi belum larut malam kok, masih malam yang banyak orang beraktivitas. Saat aku turun, Ressa mengeraskan suaranya dari angkot sambil bilang, “KAMU PASTI BISA! SEMANGAT!” Aku hanya bisa tersenyum dan kami berjalan kaki menuju kontrakan Ilyas, sepertinya aku memang harus menginap di kontrakan Ilyas sehari saja, karena aku juga tidak mau mengganggu Ilyas sebelum UN.

Di kontrakan Ilyas, ini seperti nostalgia, karena disana aku kembali belajar berdua dengan Ilyas sampai tengah malam, tidak lupa ngemil-ngemil dan ngobrol-ngobrol juga. Seriusan, kejadian itu mengingatkanku seperti kelas 1 SMA lagi. Kami tidak belajar sebanyak pada saat kelas 1 SMA, mungkin lebih tepatnya kebanyakan ngerjain soal-soal sih tapi itu juga bentar dan kami memutuskan untuk istirahat.

HARI SABTU-MINGGU (H-1 MENJELANG UJIAN)

Aku berada di rumah pada saat hari Sabtu dan Minggu karena aku juga harus menenangkan pikiranku, aku mengingat semua dukungan dari teman-teman di sekolah, tidak hanya dukungan Deotrix. Aku tidak tau apa yang dirasakan teman-teman sekolah lainnya, mungkin ada yang masih gugup, biasa saja, santai, ga bisa tidur, dan sebagainya.

Hari Minggu aku benar-benar hanya beristirahat dan membaca sedikit untuk Ujian Nasional di hari Senin. Selain itu aku juga menyiapkan seragam dan segala macamnya sendirian, ya ampun apa aku sudah agak dewasa? HAHAHA, karena aku ga biasanya serapi ini dan sesiap ini, benar-benar berbeda dari SD dan SMP.

Aku sangat berterima kasih kepada teman-teman di sekolah yang mengubah pola pikirku, jujur aku sedikit menyesal pada saat SD dan SMP jika tidak banyak belajar, ada banyak manfaat dan ilmu yang banyak untuk diketahui di masa depan, makanya di SMA aku agak-agak ketinggalan jaman gitu, cuman taunya main, padahal ilmu pengetahuan itu benar-benar keren. Apalagi semakin banyak ilmu dan informasi yang diperoleh, membuat kita tau mana yang benar dan salah, apalagi kalau ngajak ngobrol orang setidaknya suka nyambung, baik itu ilmu pelajaran atau bisa juga suatu hal yang lagi trend, tidak ketinggalan jauh juga perkembangan teknologi, aku belajar banyak di SMA.

HARI PERTAMA UJIAN NASIONAL

Aku berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali, tidak biasanya aku berangkat sepagi ini. Selama perjalanan aku mengendarai motor dengan santai, melihat sekitar banyak anak-anak SMA yang lagi belajar di jalan, di angkot, dan sebagainya. Aku mendadak lebih tenang dari beberapa hari kemarin. Sesampai di sekolah aku disambut oleh Royan, dia lari menghampiriku sambil berkata, “Gimana? Siap ga? Aduh aku tegang gini.” aku hanya mengatakan dengan santai, “Hahaha pasti kita bisa! Kamu ga ke toilet dulu buat belajar dan buang air besar? Hahaha.” Royan menjawab, “Tadi udah ke toiletnya pagi-pagi banget, tapi kali ini ga belajar di toilet kok haha.”

dxeepp18-1dxeepp18-2

Kami melaksanakan Ujian Nasional di bangunan utama, sekolah utama kami. Suhu yang dingin matahari yang baru terbit namun tertutupi awan, pokoknya sejuk dan dingin deh. Aku berjalan memasuki sekolah dan memasuki koridor sempit, disana aku bertemu dengan Fajar, dia mengatakan “Eh gimana, sehat?” Aku menjawab, “Baik, siapkan jar untuk hari ini?” membalas pertanyaan mengenai UN, Fajar menjawab, “Kita harus siap, pasti bisa, kamu juga!” Kami berpisah, Fajar menuju keluar sekolah ke lapangan, dan aku masih mencari kelas. (ga jelas ya? tapi ya aku cuman cerita agak rinci aja kok sesuai dengan kejadian aja hahaha, jadi maaf kalau ada cerita yang ga jelas)

Beberapa meter dari ruangan ujian ku, tiba-tiba ada Ugen atau Ghaini memanggilku, “KAMU HARUSNYA DISEBELAH AKU!” Eh? Kenapa marah-marah dia hahaha, cuman bercanda aja sih dia sambil menjawab, “Aku ga bisa nyontek, soalnya aku duduk di belakang kamu.” EYYY!! Dikirain apaan, Ugen hanya bergurai, biasa dia suka bercanda yang aneh-aneh. Sebelah kananku adalah Diki, tapi Diki belum dateng. Setelah aku masuk kelas, aku hanya duduk sebentar untuk mengistirahatkan otak, tiba-tiba Royan muncul masuk ruanganku, “Ayo, keluar yuk.” Hmm? Ya udah akhirnya aku ikut Royan keluar, saat menuju lapangan sekolah, tiba-tiba ada Diki, tiba-tiba Royan berlari ke Diki meluk-meluk ga jelas sambil cubit-cubit haha. Bersama Nisa, Nisa hanya ketawa disitu melihat tingkah laku Royan dan Diki yang masih saling usil dan tenang padahal hari itu adalah hari pertama UN.

Bertemu Ali, kami juga menyambut Ali hahaha, ada Ilyas kami juga menyambut Ilyas, ga jelas gini HAHAHA. Kami nongkrong-nongkrong di luar buat para laki-laki Deotrix, beberapa orang mengusulkan, “Gimana kalau kita setelah UN atau pas hari terakhir UN langsung main futsal? Biar ga stress dan biar ga tegang.” Ya sebenarnya kalau udah selesai UN kayanya emang udah pasti ga tegang deh, malah tenang udah melewati UN haha, tapi ya ide yang bagus sih karena udah lama banget ga futsal gara-gara kebanyakan belajar.

UJIAN NASIONAL DIMULAI

Aku mengerjakan soal-soal tersebut dengan teliti, karena waktu terbatas, aku mengerjakan soal yang aku tau jawabannya dan yakin sekali dengan jawabannya. Beberapa soal aku lewati karena akan menghabiskan waktu untuk berpikir apalagi matematika harus menghitung agak lama (itu trik aku sih). Memang setiap selesai ujian, banyak siswa yang langsung pulang ke rumah masing-masing, begitu juga aku, untuk belajar mengenai ujian selanjutnya. Trik tidur ini efektif untuk aku agar ga tegang, setiap orang punya caranya sendiri, mungkin dengan minum, ngemil, main game, atau apapun itu biar ga tegang dan stress.

HARI TERAKHIR UJIAN NASIONAL

Ayo hari terakhir UN nih, hari terakhir UN aku tetap tenang dan mengerjakan semampu ku, tapi ya tidak lupa untuk berdoa (yang paling penting). Jujur nih lho ya, selama UN aku benar-benar tidak menggunakan kunci jawaban, aku bekerja sendiri, aku berusaha sendiri, dan di rumah juga belajar sendiri, aku pikir Deotrix dan teman-teman juga bekerja keras untuk lulus atas usaha mereka masing-masing, tanpa ada kecurangan. Suatu saat … kalau ada adik-adik kelas bilang, “Kak, aku boleh pake kunci jawaban ga ya? Beli sih, tapi lumayan kan ada pencerahan.” HAHAHAHA (tapi guys sebenarnya beneran lho ada yang nanya kaya gitu ke aku pas aku masuk kuliah), aku cuman berkata, “CUPU!” EH HAHAHA, ga deng haha, bercanda, aku cuman bilang, “Berusaha dulu dan berdoa, jangan mengandalkan kunci jawaban, apalagi sampai beli-bei kaya gitu, kamu ga bangga setelah lulus nanti? Apa memang kamu ga peduli masa depan kamu dan Negara ini kalau banyak kecurangan yang terjadi bahkan pada saat masih sekolah? Ga malu dan ga ada sesuatu yang keren buat diceritain dong?” EAA KEREN BANGET KAN?

TEEEEEEETTTT… balik lagi ke masa aku dan Deotrix melaksanakan UN, suara bell berbunyi, waktu pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA berakhir, FIUUUHHH! Teman-teman yang lain keluar, sementara aku hanya duduk dibangku sendirian di kelas. Aku benar-benar duduk yang malas-malasan (mungkin lelah otak dan kurang tidur), gimana ya ngejelasinnya, pokoknya posisi duduk udah kaya tiduran di bangku. Diki dan Anisa (Nisa) datang ke kelas dan mengajak aku untuk keluar, Nisa berkata, “Kenapa? Ayo kita keluar, udah selesai, sekarang main aja, kan cowok-cowok mau futsal, kan? Jangan stress. Kita pasti lulus deh, apalag keliatan perjuangan kamu ga akan sia-sia kok.” Diki juga ikut ngomong, “Kita cari hiburan, ayo futsal, tapi aku mau makan dulu.”

Aku keluar sekolah bersama Diki dan Anisa, setelah itu aku bertemu teman-teman kelas IPS, salah satu temanku memanggilku sambil curhat, “Gimana bisa, kan? Tadi aku ada yang ga bisa padahal kamu sering ngajarin bagian itu, lupa-lupa inget sih.” Aku hanya tertawa dan tersenyum sambi mengatakan, “Berdoa aja, lulus semua deh ya.” (obrolan anak SMA haha)

Pulang sekolah banyak teman khususnya para laki-laki yang mengajakku, “Ayo langsung ke lokasi udah dipesan tempatnya, ke tempat futsal biasa.” Woh, hari terakhir UN, banyak laki-laki yang sudah mempersiapkan sepatu futsal, kaos, celana, dan semacamnya. Aku berpamitan kepada teman-temanku yang ada di sekolah dan aku langsung menuju ke lapangan futsal yang sudah disewakan, ya sebagian teman-teman ada yang pulang dulu buat ambil perlengkapannya.

Sesampai di lokasi kami bermain futsal sepuasnya, tidak hanya teman-teman Deotrix, tapi juga teman-teman dari kelas lain ikut bermain futsal dengan kami, pokoknya lebih banyak dari biasanya deh. Setelah UN memang pilihan lain sebelum ke rumah biasanya pada pergi jalan-jalan, ada yang ke mall, nonton, nongkrong di restaurant, dan sebagainya, sedangkan kami para laki-laki memilih bermain futsal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: